Gambar

Susahnya menjadi reseller di australia

Sejak pergi ke australia setengah tahun yang lalu saya sudah berpikir harus bisa mendapatkan kerja di ausie dan ternyata pekerjaan yang paling mungkin saya lakukan adalah menjadi penjual online.

Mulailah saya searching2 barang apa yang bisa saya beli di ausie trus saya jual ke indonesia. Atau mungkin kenapa saya ndak berpikir jual produk ronita ke ausie saja? Hal ini sudah saya coba lakukan tapi ternyata ongkir ke ausie lama sehingga itu mengendurkan daya minat pembeli walau permintaan sudah banyak.

Akhirnya ada beberapa item barang yang cocok untuk bisa saya beli di ausie dan jual lagi di indonesia. Beberapa seller saya kontak dan selalu saya bilang ke mereka “untuk di jual lagi ya mate”. Kata-kata untuk dijual lagi ini biasanya sangat sakti kalo di indonesia, dimana penjual biasanya selalu ok2 saya kasih diskon deh (termasuk saya..he he he).

Tapi ternyata tidak di ausie, malah seringnya saya dicuekin ama mereka kalo bilang seperti itu, kalopun ditanggepin juga seadanya saja. Trus saya berpikir ada apa ya kok saya dicuekin terus begini, usut punya usut ternyata para penjual disini punya aturan yang jelas tentang reseller, misal di pembelian sekian dolar baru saya bisa dapat special price.

Beda banget dengan beberapa orang yang kontak ke ronita dan kadang belum beli apa2 sudah minta harga khusus, dengan alasan mau dijual lagi.

Akhirnya saya mencoba melakukan transaksi dan ternyata benar ketika saya sudah menunjukkan repeat order baru mereka mulai memberikan respon yang baik, baru mereka mau memberi info barang2 yang laku dipasaran dan seterusnya.

Nah disini akhirnya saya berpikir bahwa memang jadi penjual itu harus punya sikap yang tegas dan mental yang bagus agar tidak terpengaruh konsumennya.

Contohnya saya yang mencoba mempengaruhi seller ausie dengan kata2 “untuk dijual lagi” tidak digubris oleh mereka karena bagi mereka itu hanya omongan bukan transaksi yang sudah jelas profitnya.

Dari sini akhirnya saya menarik kesimpulan bahwa begitulah kadang yang terjadi di usaha kita, apalagi kalo pas di awal2 usaha. Banyak sekali konsumen yang berjanji manis, nanti mau jadi reseller asal di beri murah, minta murah dengan janji mau beli banyak dan sebagainya.

Sayangnya saya dulu termasuk orang-orang yang juga terjebak seperti itu, sudah dikasih murah ternyata ndak jadi beli, sudah dikasih murah ternyata hanya untuk sekali dan seterusnya.

Dari sana akhirnya saya berpikir mending langsung jual ke end user aja dan fokus ke end user, sedangkan untuk reseller harus ada kejelasan dan pembuktian bahwa reseller tersebut benar-benar menjual kembali barang kita dengan baik.

So disinilah tantangannya sobat ronita, ketika kita menjual maka kita harus bisa berdiri di dua kaki kita sendiri, harus punya pemasaran kita sendiri sehingga tidak terombang-ambing pihak lain yang hanya sekedar ambil untung dari produk yang kita produksi.

Jangan sampai kita yang susah2 memproduksi tapi orang lain yang menjual mahal hanya karena mereka memberi kita kata-kata “untuk di jual lagi”

Salam Kreatif
by RONIta

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s