Gambar

Pengalaman nge-print di australia

Walau udah hampir setengah tahun lebih disini tapi baru pagi ini saya ngeprint di tempat printing seperti layaknya RONIta di Indonesia.

Tempat pertama yang saya samperin adalah tempat printing di dalam kampus UNSW yang walau mesinnya banyak tapi operator yang nerima file hanya satu jadi kita harus antri seperti di teller bank. Ternyata disitu saya hanya disuruh nunjukin file mana yang mau di print dan suruh ngisi form nama dan keterangan bahwa design adalah asli dan bukan contekan (keren juga nih mungkin karena punya kampus jadi ada seperti itu). Oh ya formnya termasuk nulis jenis kertas dan ukuran.

Saya jadi ingat kalo di RONIta form ini namanya SPK atau Surat Perintah Kerja, cuman bedanya kalo di kita yang ngisiin admin bukan konsumen, kalo di ausie konsumen yang isi dan tentu semua kesalahan nantinya kalo terjadi adalah resiko konsumen sendiri. Hal ini saya katakan begitu karena memang terjadi pada saya, saya lupa tidak kasih keterangan jenis ketebalan kertas sehingga harusnya cetak tebal 200gsm tapi defaultnya mereka kalo ndak diisi adalah hvs.

Nah parahnya ternyata tu tempat kagak nerima uang cash, jadi bayar harus pakai cc atau eftpos, duh saya ndak bawa semua dan hanya pakai uang cash, so disuruhlah saya balik dan cetakan ndak bisa di bawa

Karena saya males untuk balik lagi maka saya pergi ke printingan depan kampus yang katanya punya orang indonesia, setidaknya saya mikir disana bisa bahasa indonesia n ngobrolnya lebih enak.

Sampai disana memang semua orang indonesia crewnya dan saya bilang mau print mas, oh silakan ini komputernya dan sialnya ndak ada yang namanya photoshop atau corel, yang ada hanya pdf atau prit preview windows, yuhui asyik banget deh jadinya dan ketika di print ukuran gambar saya jadi tidak pas dan itu mereka juga gak mau tahu, kalo mau benerin silakan pulang dan balik lagi kesini ya mas dengan file pdf.

Oh my God, saya merasa bersyukur ternyata percetakan di Indonesia masih lebih manusiawi dibandingkan di ausie sini.

Tapi intinya yang saya tarik adalah bahwa ketika kita jadi konsumen maka kita bener-bener paham juga tentang perusahaan printing yang mau kita pakai jasanya. Setidaknya kita kenal dulu, kita tahu dulu sistem kerja mereka gimana sehingga ketika datang kesitu sudah ada gambaran dan tahu apa yang akan kita lakukan.

Nah sekarang masalahnya banyak sekali pemain pemula atau yang mau jadi broker tidak mau belajar akan hal ini. Maunya hanya jualan cepet tapi kagak pernah mau memahami proses produksi sehingga ketika ada masalah di produksi sudah marah2 tapi gagap semua menjelaskan ke konsumennya.

Ini mengingatkan saya juga pas pertama kali datang ke percetakan, dimana saya hanya bawa file word tapi untungnya orangnya mau jelasin gimana seharusnya dan dia bilang kalo mau cepet di proses maka file harus siap mas, kalo belum siap maka ada biaya setting dan waktu produksinya lebih lama.

So sejak saat itulah saya bertekad harus bisa design bisa setting karena saya takkan pernah bisa maju dengan usaha percetakan saya kalo saya ndak bisa itu semua.

Ya begitulah sobat cerita unik di pagi ini, hanya karena pengen ngeprint A3 4 lembar saja saya harus jalan kaki hampir 3 km dan yang jelas saya harus keluar uang 140 ribu untuk hasil yang rusak.

Saya tidak bisa menyalahkan tempat printing tersebut karena memang saya datang kesana tanpa tahu sistem kerja mereka seperti apa.

Salam Kreatif
by RONIta

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s